Thursday, December 17, 2009

Kenali Konsep Diri Anda

Konsep Diri Menurut Carl Rogers

Carl Ransom Rogers lahir pada tanggal 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinios, Chicago. Rogers meninggal dunia pada tanggal 4 Pebruari 1987 karena serangan jantung. Rogers adalah putra keempat dari enam bersaudara. Rogers dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan dan menganut aliran protestan fundamentalis yang terkenal keras, dan kaku dalam hal agama, moral, dan etika.
Semasa mudanya, Rogers tidak memiliki banyak teman sehingga ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca. Dia membaca buku apa saja yang ditemuinya termasuk kamus dan ensiklopedi, meskipun ia sebenarnya sangat menyukai buku-buku petualangan. Ia pernah belajar di bidang agrikultural dan sejarah di University of Wisconsin. Pada tahun 1928 ia memperoleh gelar Master di bidang psikologi dari Columbia University dan kemudian memperoleh gelar Ph.D di dibidang psikologi klinis pada tahun 1931. Pada tahun 1931, Rogers bekerja di Child Study Department of the Society for the prevention of Cruelty to Children (bagian studi tentang anak pada perhimpunan pencegahan kekerasan tehadap anak) di Rochester, NY. Pada masa-masa berikutnya ia sibuk membantu anak-anak bermasalah/nakal dengan menggunakan metode-metode psikologi. Pada tahun 1939, ia menerbitkan satu tulisan berjudul "The Clinical Treatment of the Problem Child", yang membuatnya mendapatkan tawaran sebagai profesor pada fakultas psikologi di Ohio State University. Dan pada tahun 1942, Rogers menjabat sebagai ketua dari American Psychological Society. Rogers terkenal sebagai seorang tokoh psikologi humanis, aliran fenomenologis-eksistensial, psikolog klinis dan terapis, ide-ide dan konsep teorinya banyak didapatkan dalam pengalaman -pengalaman terapeutiknya.
Ide pokok dari teori - teori Rogers yaitu individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah - masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri.
Konsep diri menurut Rogers adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku. Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positip tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.

Konsep-diri memiliki tiga dimensi, yaitu:

1. Pengetahuan tentang diri anda
Adalah informasi yang anda miliki tentang diri anda. Misalkan jenis kelamin, penampilan, dan sebagainya.

2. Pengharapan bagi anda
Adalah gagasan anda tentang kemungkinan menjadi apa kelak.
3. Penilaian terhadap diri anda
Adalah pengukuran anda tentang keadaan anda dibandingkan dengan apa yang menurut anda dapat dan seharusnya terjadi pada diri anda. Hasil pengukuran tersebut adalah rasa harga diri.

Konsep-diri memiliki dua kecondongan, yaitu:
1. Konsep-diri NEGATIF
2. Konsep-diri POSITIF


Termasuk konsep-diri yang manakah ANDA???

Konsep-diri NEGATIF
Anda memiliki penilaian NEGATIF pada diri Anda sendiri. Anda tidak merasa cukup baik dengan apapun yang Anda miliki dan merasa tidak mampu mencapai suatu apapun yang berharga. Jika hal ini terus berlanjut, maka Anda akan menuntun diri Anda sendiri ke arah kelemahan emosional. Anda mungkin akan mengalami depresi atau kecemasan secara ajeg, kekecewaan emosional yang lebih parah dan kualitasnya mungkin mengarah ke keangkuhan dan ke keegoisan. Anda telah menciptakan suatu penghancuran-diri.

Mulai sekarang....

Ubahlah dan kembangkan konsep-diri Anda, langkah-langkah yang perlu diambil untuk memiliki konsep diri yang positif :

1. Bersikap obyektif dalam mengenali diri sendiri
Jangan abaikan pengalaman positif atau pun keberhasilan sekecil apapun yang pernah dicapai. Lihatlah talenta, bakat dan potensi diri dan carilah cara dan kesempatan untuk mengembangkannya. Janganlah terlalu berharap bahwa Anda dapat membahagiakan semua orang atau melakukan segala sesuatu sekaligus.
“You can’t be all things to all people, you can’t do all things at once, you just do the best you could in every way....”

2. Hargailah diri sendiri
Tidak ada orang lain yang lebih menghargai diri kita selain diri sendiri. Jikalau kita tidak bisa menghargai diri sendiri, tidak dapat melihat kebaikan yang ada pada diri sendiri, tidak mampu memandang hal-hal baik dan positif terhadap diri, bagaimana kita bisa menghargai orang lain dan melihat hal-hal baik yang ada dalam diri orang lain secara positif. Jika kita tidak bisa menghargai orang lain, bagaimana orang lain bisa menghargai diri kita ??

3. Jangan memusuhi diri sendiri
Peperangan terbesar dan paling melelahkan adalah peperangan yang terjadi dalam diri sendiri. Sikap menyalahkan diri sendiri secara berlebihan merupakan pertanda bahwa ada permusuhan dan peperangan antara harapan ideal dengan kenyataan diri sejati (real self). Akibatnya, akan timbul kelelahan mental dan rasa frustrasi yang dalam serta makin lemah dan negatif konsep dirinya.

4. Berpikir positif dan rasional
“We are what we think. All that we are arises with our thoughts. With our thoughts, we make the world” (The Buddha).
Jadi, semua itu banyak tergantung pada cara kita memandang segala sesuatu, baik itu persoalan maupun terhadap seseorang. Jadi, kendalikan pikiran kita jika pikiran itu mulai menyesatkan jiwa dan raga.


Konsep-diri SEDANG
Anda berada di persimpangan antara kepemilikan konsep-diri positif dan konsep-diri negatif. Ada kalanya anda bisa dan tidak bisa menerima keadaan diri sendiri. Jika konsep-diri negatif semakin berkembang daripada konsep-diri positif, maka Anda akan menuntun diri Anda sendiri ke arah kelemahan emosional. Anda mungkin akan mengalami depresi atau kecemasan secara ajeg, kekecewaan emosional yang lebih parah, dan kualitasnya mungkin mengarah ke keangkuhan dan ke keegoisan.

Mulai sekarang....

Ubahlah dan kembangkan konsep-diri Anda, langkah-langkah yang perlu diambil untuk memiliki konsep diri yang positif :

1.Bersikap obyektif dalam mengenali diri sendiri
Jangan abaikan pengalaman positif atau pun keberhasilan sekecil apapun yang pernah dicapai. Lihatlah talenta, bakat dan potensi diri dan carilah cara dan kesempatan untuk mengembangkannya. Janganlah terlalu berharap bahwa Anda dapat membahagiakan semua orang atau melakukan segala sesuatu sekaligus.
“You can’t be all things to all people, you can’t do all things at once, you just do the best you could in every way....”

2.Hargailah diri sendiri
Tidak ada orang lain yang lebih menghargai diri kita selain diri sendiri. Jikalau kita tidak bisa menghargai diri sendiri, tidak dapat melihat kebaikan yang ada pada diri sendiri, tidak mampu memandang hal-hal baik dan positif terhadap diri, bagaimana kita bisa menghargai orang lain dan melihat hal-hal baik yang ada dalam diri orang lain secara positif. Jika kita tidak bisa menghargai orang lain, bagaimana orang lain bisa menghargai diri kita ???

3. Jangan memusuhi diri sendiri
Peperangan terbesar dan paling melelahkan adalah peperangan yang terjadi dalam diri sendiri. Sikap menyalahkan diri sendiri secara berlebihan merupakan pertanda bahwa ada permusuhan dan peperangan antara harapan ideal dengan kenyataan diri sejati (real self). Akibatnya, akan timbul kelelahan mental dan rasa frustrasi yang dalam serta makin lemah dan negatif konsep dirinya.

4. Berpikir positif dan rasional
“We are what we think. All that we are arises with our thoughts. With our thoughts, we make the world” (The Buddha).
Jadi, semua itu banyak tergantung pada cara kita memandang segala sesuatu, baik itu persoalan maupun terhadap seseorang. Jadi, kendalikan pikiran kita jika pikiran itu mulai menyesatkan jiwa dan raga.

Konsep-diri POSITIF
Yups....Selamat!!!
Anda memiliki penilaian POSITIF pada diri Anda sendiri. Anda mengenal diri Anda secara baik. Anda memiliki penerimaan diri yang kualitasnya lebih mungkin mengarah ke kerendahan hati dan ke kedermawanan. Anda dapat menyimpan informasi tentang diri sendiri – informasi negatif maupun positif. Anda seorang yang optimis, penuh percaya diri, dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya. Anda menganggap hidup adalah suatu proses penemuan. Anda berharap kehidupan dapat membuat diri Anda senang, dapat memberikan kejutan, dan memberikan imbalan. Dengan menerima semua keadaan diri Anda maka Anda juga dapat menerima semua keadaan orang lain.

Dari http://www.a741k.web44.net/KENALI%20KONSEP.htm

Bagaimana Supaya Tidak Melekat alias Nempel?

Yang Mulia Bhikkhu Buddhadasa adalah pionir dalam upaya mempromosikan
kedamaian dan kerukunan beragama melalui dialog antar agama. Beliau dikenang di seluruh dunia dan masuk di dalam daftar Unesco sebagai tokoh dengan kepribadian sangat mengagumkan.

Penekanannya terhadap kesalingtergantungan antara semua makhluk membuatnya menjadi pionir dalam hal pemikiran ekologis dan pemenang dalam perdamaian antar negara.”

- Pernyataan resmi UNESCO dalam peringatan
100 tahun kelahiran Yang Mulia Bhikkhu Buddhadasa

Bagaimana berlatih tidak melekat?

Ketika menjelaskan esensi ajaran Buddha, kita tidak perlu menjawab dengan pemahaman kita sendiri. Penjelasan Buddha tentang bagaimana melatih diri mengikis kemelekatan sudah cukup singkat dan lengkap. Melihat hanya melihat. Mendengar hanya mendengar. Mencium bau hanya mencium bau. Mengecap hanya mengecap. Sentuhan hanyalah sentuhan. Ketika bentuk-bentuk pikiran muncul, hal yang negatif misalnya, kenali dan sadari bahwa bentuk pikiran itu negatif.
Mari kita ulangi sekali lagi, khususnya bagi Anda yang belum pernah mendengar hal ini. Melihat hanya melihat. Mendengar hanya mendengar. Mencium bau hanya mencium bau. Mengecap hanya mengecap. Sentuhan hanyalah sentuhan. Sadari
bentuk-bentuk pikiran yang muncul. Artinya, semua aktivitas tersebut dilakukan tanpa ada sebuah aku”. Buddha mengatakan jika seseorang mampu mencapai tahap ini, konsep aku yang ada di dalam dirinya akan hilang. Ketiadaan konsep aku
inilah yang dimaksud dengan lenyap dan terhentinya “dukkha.
Instruksi Ketika Melihat suatu obyek dengan mata, maka hanya lihatlah.
Kalimat ini membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Ketika mata melakukan kontak dengan sebuah obyek, amati dan kenali obyek tersebut. Tetapi jangan biarkan perasaan suka atau tidak suka muncul. Jika Anda membiarkan perasaan suka terus hadir, keinginan untuk memiliki akan muncul. Sebaliknya, jika Anda membiarkan perasaan tidak suka hadir, Anda malah ingin menghancurkan obyek tersebut.
Demikianlah perasaan suka dan tidak suka muncul. Inilah yang disebut dengan aku”. Hanyut terbawa oleh “aku” menghasilkan penderitaan dan membuat diri tertipu. Ketika melihat, bawa serta kebijaksanaan dan kesadaran. Jangan biarkan kekotoran batin memaksa Anda untuk melekat. Tumbuhkan kebijaksanaan untuk memahami bagaimana bertindak dengan benar dan tepat. Jika tidak ada yang perlu dilakukan, abaikan obyek itu. Jika ada sesuatu yang diinginkan dari obyek tersebut, lanjutkan saja, tetapi dilakukan dengan kesadaran dan kebijaksanaan, tanpa gagasan tentang “aku”. Dengan cara ini, Anda bisa mendapatkan apa yang Anda harapkan, tanpa ada ketidakpuasan. Inilah sebuah latihan sederhana tetapi yang paling membawa kesempurnaan.
Buddha mengajarkan: Melihat hanya melihat. Mendengar hanya mendengar. Mencium bau hanya mencium bau. Mengecap hanya mengecap. Merasakan sentuhan hanya merasakan sentuhan. Melihat bentuk-bentuk pikiran hanya melihat bentuk-bentuk pikiran. Berhenti sampai di situ saja dan insight (pemahaman) yang akan bekerja secara otomatis. Pilih arah yang benar dan tepat. Jangan biarkan “si suka” dan si benci” membuat kita bertindak berdasarkan pilihan suka atau tidak suka,
yang merupakan wujud hadirnya “aku”. Pikiran tersebut adalah pikiran yang bergejolak, tidak bebas dan tanpa insight (pemahaman) sama sekali. Inilah yang diajarkan oleh Buddha kepada kita.
Mengapa kita tidak menyebut latihan menjaga sila dan perilaku, konsentrasi, kebijaksanaan, berbuat kebajikan2, dan berdana makanan kepada bhikkhu sebagai latihan yang paling bermanfaat? Karena mereka adalah kondisi pendukung, tetapi bukan intisari Dharma, bukan yang penting. Kita melakukan kebajikan, berdana,
menjaga sila, mengembangkan konsentrasi dan mencapai kebijaksanaan untuk membuat kita menjadi kokoh dan mantap dalam berlatih. Melihat hanya melihat. Mendengar hanya mendengar. Dengan latihan ini, pikiran menjadi kokoh, mantap, dan seimbang. Walaupun segala macam obyek membombardir diri kita dengan beragam cara lewat indera kita, sang “aku” tidak akan muncul. Berdana dan melakukan kebajikan bertujuan untuk melenyapkan ego. Menjalankan sila adalah sebuah
proses untuk mendapatkan kemampuan untuk mengatasi keakuan dan juga latihan konsentrasi. Kebijaksanaan ditujukan untuk menghancurkan “sang aku”. Kita tidak membahas sesuatu yang berbeda melainkan sesuatu yang terjadisetiap hari. Mata melihat, telinga mendengar, hidung mencium dan begitu seterusnya yang terjadi kepada keenam pintu indera yang lain. Kita harus waspada, terus awasi keenam pintu tersebut. Latihan ini sudah mencakup seluruh latihan yang ada. Ini adalah latihan yang paling pokok.

Disadur dari buku The Truth of Nature karya Bhikkhu Buddhadas

Monday, December 14, 2009

Dua Ladang

Di hati kita ada dua ladang,
yang bisa ditanami dengan dua benih yang berbeda.

Satu ladang ditanam dengan benih kebencian.
Disiram dengan dengki,
dipupuk dengan permusuhan,
disiangi dengan mencari-cari kesalahan,
dan disuburkan dengan dendam.
Hasilnya adalah,
ladang dengan tanah pecah-pecah,
tanaman yang coklat kering,
Tak ada yang bisa tumbuh diatasnya.
Yang datang ke tanah ini adalah,
hawa panas membara.

Satu ladang lagi ditanam dengan benih cinta.
Disiram dengan kasih sayang,
dipupuk dengan saling pengertian,
disinari dengan cahaya ketulusan,
Hasilnya adalah,
sebuah taman yang indah,
dimana bunga aneka warna mekar,
pepohonan hijau rindang tumbuh,
kupu-kupu manis berterbangan,
dan terdengar kicauan merdu burung kutilang.

Tinggal mana yang dipilih.
Mau menanam hidup dengan kekeringan,
atau menanam hidup dengan kesejukan taman?

Pembungkus Gorengan Dari Kotoran Manusia

Pembungkus gorengan yang Anda makan bisa saja berasal dari bekas kotoran manusia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada Juli 2009 kemarin mengeluarkan peringatan publik atas penggunaan kantong plastik kresek. Terutama kantong plastik berwarna hitam yang biasa digunakan untuk pembungkus makanan.

Kantong plastik berwarna hitam merupakan proses daur ulang dan dalam prosesnya, menurut BPOM, tidak diketahui riwayat penggunaan sebelumnya, apakah bekas wadah pestisida, limbah rumah sakit, kotoran hewan atau manusia, limbah logam berat, dll. Dalam proses tersebut juga ditambahkan berbagai bahan kimia yang menambah dampak bahayanya bagi kesehatan.

Oleh karena itu BPOM memberikan peringatan agar semua masyarakat mulai memperhatikan hal ini. Walaupun sudah berjalan 4 bulan, hingga kini banyak masyarakat yang belum mengetahui peringatan tersebut.

Waspadalah.....waspadalah......

Sunday, December 13, 2009

Kesadaran 1

Manusia suka membicarakan orang lain di belakang punggung mereka,
karena merasa diperlakukan tidak adil,
dan dibedakan.
Selalu saja mencari celah untuk menyalahkan,
dan menabur
benih-benih kebencian.

Sampai suatu hari kilat datang menyambar pikiran,
dan hujan datang membasahi hati.
Dia kini mengerti,
bahwa itu adalah perbuatan kurcaci,
yang hanya mengerdilkan dan menurunkan
tingkatannya di mata manusia,
juga di mata Tuhan.

Lalu dia berhenti,
menusuk orang dengan pedang dari belakang,
kala mereka tidak mengetahui.
Karena dia tidak mau masuk
ke dalam golongan kurcaci.

Untukmu Pujanggaku

Kau memang bukan orang yang suka berkata-kata.
Bukan juga tipe orang yang
menunjukkan kasih sayang
dengan berbunga-bunga.

Kau adalah orang yang hemat kata-kata.
Sedikit bicara,
tapi banyak mengamati.
Kau begitu misterius,
sehingga kadang sulit menebak apa yang ada di pikiranmu.
Senyumanmu jarang terlihat.
Sehingga kadang kupikir kau adalah
manusia tanpa emosi.

Tadinya aku suka kesal padamu.
Karena kupikir engkau begitu dingin.
Kupikir kau tak peduli,
akan apa yang kurasakan dan yang ada di benakku.

Ternyata, aku SALAH BESAR!!
Kalulah orang yang selalu mencariku,
ketika aku menghilang.
Kaulah orang yang selalu menanyakan keadaanku,
dan begitu peduli pada kesehatanku.
Kau jugalah yang selalu memastikan,
bahwa aku baik-baik saja.

Kenapa kesadaran ini baru datang,
setelah kau tiada?
Sehingga aku tidak sempat berterima kasih.
Tidak sempat mencium tanganmu,
untuk mengucapkan kata maaf,
atas segala kesalahanku.
Dan mengatakan bahwa,
aku sayang padamu.

Wednesday, December 9, 2009

Hipnosis dan Aku

Hipnosis. Apa yang ada di pikiran Anda waktu mendengar kata ini? Mungkin Anda membayangkan seorang berpakaian hitam-hitam berdiri di depan Anda dan mengayunkan bandul panjang di depan mata sambil berkata, 'Anda mulai mengantuk....'

Dulu aku menganggap hipnosis itu sesuatu yang seram. Aku selalu menolak kalau diajak pergi ke terapis. Buatku mereka semua sama seperti dokter. Biar sudah diyakinkan berkali-kali kalau itu bukan dokter dan aku cuma akan ditanya-tanya, aku tetap nggak percaya. Pikiran bawah sadarku selalu menolak untuk disembuhkan. Akibatnya bisa ditebak. Sudah banyak psikiater yang kudatangi, juga seorang hipnoterapis, tapi semua nggak mempan. Aku merasa nggak sakit! Ngapain disuruh-suruh ke terapis? Apalagi saat aku disuruh menceritakan masalah-masalah yang kuhadapi pada saat itu. Rasanya nggak nyaman cerita masalah pribadi ke orang asing. Lagian aku nggak merasa punya masalah. Karena menutup diri, termasuk pada sesi hipnosis, terang saja kalau semua terapi itu nggak ada hasilnya.

Pandanganku tentang hipnosis berubah total setelah bertemu dengan Pak Sasmita, seorang terapis hebat yang kemudian jadi papa angkatku. Saat itu aku datang padanya cuma karena sudah dibuatkan janji oleh saudaraku, kak Anne dan kak Petrus. Kondisi kejiwaanku saat itu hancur-hancuran karena aku baru saja mengalami trauma berat akibat dua kali kehilangan pekerjaan.

Awalnya Pak Sas, begitu aku memanggil Papa pertama kali, tidak langsung menggunakan hipnosis, tapi malah ngajak aku makan dan ngobrol. Tidak ada sesi terapi formal seperti yang biasa kujalani, dimana aku masuk ruangan, duduk, lalu si terapis akan mulai bertanya-tanya tentang apa yang membuatku nggak nyaman.

Aku sempat bingung saat itu, tapi pendekatan Papa yang jauh dari kesan resmi membuatku terkesan. Dengan sikap ini, sebenarnya dia sudah mulai menghipnosis tanpa kata-kata. Awal baik yang membuka jalan bagi kesuksesan terapi berikutnya. Karena percaya pada Papa, aku patuh saja saat diterapi. Dengan mengikuti semua petunjuk yang dia berikan, aku pun mampu masuk ke dalam kondisi hipnosis. Pertama kali memang rasanya aneh, karena aku merasa seperti orang tidur tapi sadar, alias tidur hipnosis. Pada saat itulah Papa Sasmita memasukkan program baru ke dalam pikiran bawah sadarku. Di waktu tidur hipnosis, pikiran berada di level bawah sadar, sehingga lebih mudah diprogram ulang. Pikiran yang tadinya negatif diubah menjadi positif. Semua trauma dan ketakutan, sampai ke yang berat sekalipun, dihapus. Setiap selesai satu sesi, rasanya bebanku berkurang. Aku pun mulai percaya kalau hipnosis bisa membantu siapa saja untuk menyelesaikan masalah dalam hidupnya. Syaratnya cuma satu : ada kemauan untuk berubah.

Karena sambutannya yang begitu hangat, dan kemauanku untuk memperbaiki hidup, akhirnya aku memutuskan untuk menginap di apartemen Mitra Sunter, tempat Papa tinggal selama di Jakarta. Dia cuma punya waktu sepuluh hari, dan harus dimanfaatkan semaksimal mungkin, itu pertimbangannya. Selain aku, Papa juga melakukan terapi dan relaksasi pada klien-kliennya lain. Aku selalu ikut dan melakukan relaksasi bersama para klien Papa. Terapi hipnosis, yang tujuannya melepas akar masalah-masalah yang kuhadapi, selalu dilakukan di apartemen. Papa tidak mau melakukannya di luar. Masalahku tergolong kasus berat karena banyak emosi negatif dan trauma yang harus di release, juga bersifat sangat pribadi. Mungkin Papa juga antisipasi kalau aku bereaksi ekstrim saat dalam keadaan terhipnosis. Lewat proses ini, satu persatu trauma dan ketakutanku terlepas. Aku merasa lebih lega dan tenang.


Berkat Papa, aku jadi punya keyakinan bahwa hipnosis mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat. Bukan berati aku merasa sudah sembuh total, karena aku sadar masih banyak hal dalam diriku yang harus dibenahi. Aku terus ingin membuktikan peran hipnosis dalam kehidupanku, sekarang dan yang akan datang. Dan aku yakin, hipnosis bisa jadi pembuka jalan buat siapapun untuk menyelesaikan masalah hidup mereka.