Friday, December 4, 2009

Paradoks dalam Pengembangan Diri

M.M. Nilam Widyarini, MSi
Paradoks Dalam Pengembangan Diri

Dalam keadaan normal, bayi lahir tentu menangis. Ia menangis karena "terlempar" dari zona nyaman (hangat-terlindung) di dalam rahim ibu ke dunia asing. Dalam perkembangannya, ia dihadapkan pada masalah penyesuaian diri. Kebutuhannya berkembang, baik yang bersifat instinktif hingga yang transenden. Kontradiksi batin harus dialami, membuat ia terus bergulat mencari jawaban atas eksistensinya.

Dalam pergulatan mencari jawaban atas eksistensinya, manusia dihadapkan pada paradoks-paradoks, yang mencakup beberapa aspek: fisik vs nonfisik; kesadaran vs ketidaksadaran; orientasi diri vs sesama manusia.
Dengan adanya paradoks-paradoks tersebut, tugas manusia adalah menemukan keseimbangan antara dua kutub yang berbeda itu atau mengintegrasikannya. Hanya dengan itulah manusia dapat mencapai kebahagiaan.

Kebahagiaan yang dimaksud bukan sekadar letupan kegembiraan sesaat seperti ketika seseorang berhasil meraih sesuatu yang diinginkan. Seperti yang dinyatakan Erich Fromm, kebahagiaan yang dimaksud di sini, yakni aktivitas batin yang intensif dan pengalaman tentang bertambahnya daya hidup lantaran hubungan produktif dengan dunia serta diri sendiri.

Fisik vs Spiritual
Secara lahiriah manusia terdiri dari aspek fisik (biologis). Konsekuensi dari aspek biologis ini manusia terikat dengan hukum fisik seperti lapar, sakit, mencari kepuasan biologis, tertarik pada dunia materi, dan sebagainya.
Di sisi lain, manusia juga terdiri atas aspek-aspek nonfisik, yaitu psikis, sosial, dan spiritual. Aspek biologis dan aspek spiritual kita ketahui sebagai dua kutub yang berlawanan.

Sehubungan dengan kecenderungan manusia untuk mencari kepuasan biologis atau dunia materi, Viktor Frankl, psikolog dari akhir abad XIX yang ikut mengembangkan psikoterapi, menyatakan bahwa semakin seseorang memaksa mendorong dirinya ke arah kesenangan, ia akan semakin kurang mampu menikmati kesenangan. Kendati terdapat kecenderungan mencari kesenangan, di sisi lain usaha untuk itu justru akan menghalangi seseorang mencapai kepuasan (kebahagiaan).

Salah satu teknik yang relevan untuk mengatasi kecenderungan orang mencari kesenangan biologis atau dunia materi, menurut logoterapi (terapi yang berorientasi pada penemuan makna hidup, dikembangkan oleh Frankl) adalah bimbingan rohani. Bimbingan rohani diterapkan sebagai teknik terapi karena sesuai dengan pemikiran dasar Frankl tentang spiritualitas. Spiritualitas merupakan sisi transendensi pada manusia, yang mengatasi dunia fisik dan sosial, berfungsi memberikan makna hidup.

Dengan mengembangkan spiritualitas (merealisasi nilai-nilai kehidupan berdasarkan suara hati), seseorang akan menemukan makna dari keberadaan (eksistensi) dirinya sebagai pribadi. Ini merupakan sumber rasa tentram. Spiritualitas yang terintegrasi dalam kepribadian seseorang akan sanggup memerdekakannya dari dorongan aspek fisik, psikis, maupun sosial yang seringkali bersifat menjebak.

Yang dimaksud Frankl dengan "spiritualitas yang terintegrasi dalam kepribadian seseorang akan sanggup memerdekakannya dari dorongan aspek fisik, psikis, maupun sosial", bukan berarti bahwa aspek fisik, psikis, dan sosial manusia diabaikan. Kata"terintegrasi" menunjukkan ada penyatuan dari beberapa aspek itu, dan membentuk keseimbangan pribadi secara total.

Kesadaran vs Ketidaksadaran
Manusia memiliki dimensi kesadaran dan ketidaksadaran. Tiap-tiap orang memiliki bagian kepribadian yang tidak disadari (personal unconscious), yang berkembang di luar pengalaman sadar karena telah ditekan: dorongan-dorongan amoral, dorongan-dorongan seksual yang tidak dapat diterima, kebutuhan-kebutuhan egoistik, ketakutan, harapan-harapan irasional, pengalaman yang memalukan, dan motif-motif keji.

Bagian kepribadian yang tidak disadari (karena ditekan) itu dalam kenyataan selalu mendesak untuk dipuaskan. Namun, dalam alam sadar, pemuasan terhadap dorongan bawah sadar tersebut tidak dapat diterima karena tidak sesuai dengan norma masyarakat.

Jung, tokoh psikodinamika yang mencoba mengurai kepribadian manusia menyatakan: "Tujuan kepribadian manusia ialah totalitas psikis yang dinamis, kesatuan berdasarkan kerja sama antarberbagai sisi/bagian dalam psike, khususnya bagian sadar dan tak sadar."

Orang yang sehat secara psikologis, sedikit demi sedikit telah berhasil menggali bagian kepribadiannya yang tidak disadari, dan mengintegrasikan sisi gelap (shadow) dengan bagian kepribadian yang disadari. Dengan jalan ini, seluruh komponen kepribadiannya dapat bekerja sama membentuk kesadaran penuh, diri (self) yang penuh tujuan.

Proses harmonisasi komponen kesadaran dan ketidaksadaran seseorang ini terjadi secara unik untuk tiap orang, dan menghasilkan pola perilaku yang unik pula. Jung menyebutnya proses individuasi (individuation).
Dalam individuasi, seseorang menemukan keutuhan pribadinya ketika aspek-aspek dalam ketidaksadaran (yang bersifat primitif) telah bersatu dengan bagian pribadi yang disadari. Secara implisit hal ini menunjukkan bahwa bagian yang tidak disadari itu telah ditemukan maknanya dalam konteks pikiran-pikiran sadar yang dapat diterima norma masyarakat.

Hal ini akan lebih jelas dalam contoh berikut: Seseorang yang memiliki ciri sangat egoistis, ketika ia menyadari akan karakteristik dirinya itu, akan mengalami konflik hebat karena terasa sangat bertolak belakang dengan norma masyarakat (ajaran moral bermasyarakat).

Bila ia terus berproses, kemungkinan akan menemukan makna karakteristik egoistis dalam konteks pikiran-pikiran sadar yang dapat diterima oleh norma masyarakat: bahwa egoisme merupakan kekuatan kehendak! Dengan kehendak yang kuat justru ia dapat lebih efektif mencapai berbagai tujuan, tetapi bukan lagi tujuannya sendiri, melainkan tujuan bersama.

Dengan begitu, komponen kepribadian telah diintegrasikan. Bagian dari alam tidak sadar telah diintegrasikan ke dalam alam sadar, membentuk pribadi yang utuh, sehat secara psikologis.

Orientasi Diri vs Sesama
Erich Fromm telah mempelajari pengaruh lingkungan kebudayaan terhadap pembentukan kepribadian manusia. Ia berpandangan, pada saat akal budi dan imajinasi bersama-sama terbentuk (usia 8-9 tahun), manusia menjadi sadar akan ketersendirian dan keterpisahannya; akan ketidakberdayaan dan ketidaktahuannya; akan kelahiran dan kematiannya yang tak terduga.


Sekalipun semua kebutuhan fisiologisnya terpuaskan, manusia tetap mengalami keterpisahan dari dunia sekitarnya. Rasa keterpisahan itu harus didobrak dengan menemukan ikatan-ikatan baru dengan sesama manusia, menggantikan ikatan-ikatan lama yang didorong oleh insting.

Ada beberapa cara mencari dan mencapai kesatuan dengan sesama. Salah satunya lewat jalan kepatuhan kepada seseorang, kelompok, institusi, dan Allah.

Dengan menjadi bagian dari seseorang atau sesuatu yang lebih besar, lebih berkuasa darinya, manusia mengalami identitasnya dalam hubungan dengan kekuatan pribadi atau lembaga yang dipatuhinya. Cara yang lain, dengan jalan berkuasa, menjadikan orang lain bagian dari dirinya (dominasi). Namun, sungguh ironis bahwa perwujudan hasrat kepatuhan total ataupun dominasi ini tidak pernah membuahkan kepuasan.

Hanya ada satu syarat yang memuaskan kebutuhan manusia untuk mempersatukan dirinya dengan dunia, dan pada saat yang sama untuk memperoleh rasa integritas dan individualitas, yaitu cinta. Dalam tindakan mencinta, saya menjadi satu dengan semua, tetapi saya tetap saya sendiri yang unik.

Oleh Fromm cinta merupakan salah satu dari aspek orientasi produktif: keterbukaan manusia yang aktif dan kreatif terhadap sesamanya, diri sendiri, dan alam. Dalam pengalaman cinta terjadi paradoks bahwa dua orang menjadi satu, tetapi serentak tetap dua juga. Dalam arti ini cinta berlawanan dengan egoisme.

Seseorang dikatakan mampu mencintai orang lain bila ia mencinta dalam arti: Di dalam dirimu aku mencintai seluruh umat manusia, semua yang hidup; dan di dalam dirimu aku juga mencintai diriku sendiri.

Kegagalan manusia untuk mencintai sesama disebut narsisme. Hanya ada satu realitas bagi seorang yang narsistis, yakni jalan pikirannya sendiri, perasaan, dan kebutuhannya sendiri. Dunia tidak dihayati secara objektif. Dalam keadaan ini manusia tidak akan bahagia karena tetap terasing dari dunia sekitarnya.

Kata Kunci: Integrasi
Jelas sudah bahwa berbagai aspek dalam diri manusia bisa berlawanan. Pemusatan diri hanya pada salah satu aspek akan menghasilkan kepribadian yang terpecah-pecah. Tidak ada titik temu antarberbagai aspek diri, sehingga tidak akan pernah menghasilkan kepuasan atau kebahagiaan.

Hanya ada satu solusi: integrasi! Pada akhirnya spiritualitas, kesadaran, dan cintalah yang akan memberikan kebahagiaan. Selamat menyongsong tahun baru dengan spirit, kesadaran, dan cinta yang lebih kokoh!

No comments: