Friday, December 18, 2009

Patekoan dan Kapiten Gan Djie by David Kwaa

Gan Djie adalah seorang Kapitein der Chineezen yang mempunyai riwayat
baik dan luar biasa. Ia adalah kapitein der Chineezen ketiga di Batavia,
menggantikan Phoa Beng Gam. Istrinya adalah seorang perempuan Bali.
Perempuan inilah yang kemudian menggantikan kedudukannya sebagai
Kapitein der Chineezen selama 12 tahun setelah ia wafat.

---------------------

Gan Djie adalah seorang Tionghoa totok yang berasal dari Ciangciu,
sebuah kota keresidenan di bagian selatan Propinsi Hokkian. Dalam
usianya yang sangat muda ia datang ke Gresik mengikuti kakak
laki-lakinya yang sudah terlebih dahulu datang ke Jawa dan kebetulan
sedang pulang ke Cina dan henda kembali pula ke Jawa. Di Gresik, Ia
membantu kakaknya berdagang hasil bumi.

Gan Djie seorang yang jujur, ramah, dan bersemangat tinggi, sehingga
disukai banyak orang. Ia rajin sembahyang dan di beberapa waktu ia juga
suka melakukan pang-she ( melepaskan makhluk hidup yang tengah menderita
) - umumnya burung atau ikan - suatu perbuatan bajik dalam pandangan
agama Budha.

Setelah bermukim lama di Gresik, ia meminta izin kepada kakaknya untuk
berjualan kelontong berkeliling di desa-desa. Ia biasa masuk ke
pelosok-pelosok desa bersama kulinya seorang Jawa yang membantunya
memikul barang dagangannya. Karena sikapnya yang baik dalam melayani
pembeli, dalam waktu singkat ia memperoleh banyak pelanggan. Satu dua
tahun kemudian ia menambah kulinya dan sedikit demi sedikit ia
mengumpulkan modal.

Pada suatu sore, di sebuah desa, ia menginap di sebuah warung. Di warung
itu sebelumnya telah tiba terlebih dulu dua tiga orang yang sikapnya
tidak baik. Mereka juga menginap di warung tersebut.

Di warung, Gan Djie mendapat sebuah kamar sebagai tempat tidurnya untuk
melepas lelah.

Sorenya, tak kala Gan Djie berjalan-jalan, ia diikuti oleh seorang
gadis, yang bekerja di warung itu, kerabat isteri pemilik warung. Sang
gadis memberi isyarat ia mau bicara. Dengan suara berbisik-bisik sang
gadis memberi tahu, di warung itu menginap dua tiga orang yang tampaknya
bukan orang baik-baik. Didengarnya, salah seorang di antara mereka
menyebut-nyebut diri si pedagang kelontong ketika mereka mengobrol. Maka
sang gadis dengan suara bersungguh-sungguh menyarankan agar malam ini
Gan Djie berjaga-jaga, bahkan kalau perlu tidak tidur.

Gan Djie merasa sangat berterima kasih atas nasihat itu. Malam itu ia
tidak tidur, ia sengaja memasang pelita sembari membaca buku, sementara
senjatanya siang hap to ( sepasang golok kembar ) diletakkan di
sampingnya.

Keesokan harinya, sekembalinya ke Gresik, ia berangkat lebih siang.
Dalam perjalanan ia diikuti oleh orang-orang yang dijumpainya di warung.
Namun mereka tidak dapat turun tangan, sebab Gan Djie baru melanjutkan
perjalanan kalau ada orang lain yang turut bersamanya.

Gan Djie merasa sangat berutang budi kepada sang gadis. Beberapa minggu
kemudian, sewaktu datang lagi ke warung itu, ia menyatakan kepada
pemilik warung bahwa ia ingin mengambil sang gadis sebagai istri, untuk
membalas budinya.

Demikianlah sang gadis lalu dinikahinya serta diajak pindah ke Gresik.
Dan atas anjuran istrinya, Gan Djie menghentikan berdagang keliling dan
berjualan saja di ruamh sendiri.



Beberapa tahun kemudian Gan Djie menjadi saudagar besar di Gresik. Ia
lalu pindah ke Batavia atas saran dari kerabatnya.


Pindah ke Batavia - Asal usul nama Patekoan

Kira-kira pada tahun 1659 Gan Djie pindah ke Batavia dan tinggal di
sebuah rumah di se sebuah jalan yang sekarang disebut Patekoan. Di
Batavia ia berniaga hasil bumi. Karena sifatnya yang baik dan suka
menolong, maka dalam waktu singkat ia menjadi salah seorang terkemuka di
tempat pemungkimannya yang baru.

Berhubung dengan usianya yang sudah lanjut, pada tahun 1663 Kapitein der
Chineezen Phoa Beng Gam, mengajukan pengunduran diri dari jabatannya
kepada Gouverneur General Joan Maetsuyker. Sebagai penggantinya ia
mengusulkan Gan Djie yang dikenalnya dengan baik. Usul itu diterima.

Pengangkatan Gan Djie sebagai Kapitein der Chineezen adalah karena
jasanya menolong dan merawat anak Joan Maetsuyker yang terpisah secara
tidak sengaja.

Tak disangka di kemudian hari Joan Maetsuyker diangkat menjadi
Gouverneur General Hindia Belanda ( 1653 ). Sebagai balas budi terhadap
tuan dan nyonya Gan Djie, kemudian dia mengangkat Gan Djie sebagai
Kapitein "bangsa" Tionghoa.

Begitulah, sejak 10 April 1663 Gan Djie diangkat menjadi Kapitein der
Chineezen ketiga. Karena kesibukannya, pekerjaan tersebut turut dibantu
oleh istrinya.

Di depan kantor Kapitein, seringkali berteduh orang-orang yang berdagang
keliling atau mereka yang kelelahan di jalan, maka pada waktu hawa udara
begitu panas, orang yang melintas di jalan tersebut selalu sulit
mendapat air untuk melepas dahaga.

Melihat hal itu istri Gan Djie ( Nyai Gan Djie ) mengusulkan kepada
suaminya agar di depan kantor disediakan air the untuk warga masyarakat
yang kehausan. Bagi orang yang berkecukupan macam Kapitein Gan, tentu
saja air the itu tidak ada artinya, tetapi bagi warga masyarakat yang
"kekeringan" penting sekali. Kapitein Gan langssung menyetujui usal itu.

Di depan kantor, di sebelah luar pintu, lalu dipasang meja-meja kecil.
Di atas meja-meja itu setiap pagi dan sore disediakan air the. Supaya
air teh itu mencukupi keperluan warga dan tidak setiap kali kehabisan,
maka di situ disediakan delapan buah te-koan (teko/poci teh). Perbuatan
baik dari Kapitein Gan membuatnya semakin disegani oleh masyarakat.
Persediaan air teh itu pun akhirnya menjadi suatu ciri untuk memudahkan
warga mencari lokasi kantor officer Tionghoa itu. Demikianlah, orang
lalu mengatakan, dimana ada pat tekoan, di situlah tempat tinggalnya
Kapitein Gan. Lambat laun jalan dimana officer Tionghoa itu bermungkim
dinamakan Pat Te-Koan, dikemudian hari menjadi Patekoan.

Nyai Gan Djie menjadi Wakil Kapitein

Pada tahun 1666, setelah memangku jabatannya selama tiga tahun, Kapitein
Gan Djie wafat. Jenazahnya dimakamkan di Molenvliet Oost - kini Hayam
Wuruk - dengan upacara yang cukup megah. Usahanya dilanjutkan oelh
putranya Gan Hoo Hoat.

Lantaran sulit memperoleh penggantinya, maka pemerintah meminta Nyai Gan
Djie menggantikan jabatan almarhum suaminya hingga nanti pemerintah
mengangkat orang lain.

Dikisahkan, selama memangku jabatan Wakil Kapitein, banyak urusan rumah
tangga warga masyarakat Tionghoa telah bisa diatur dan diselesaikan
secara damai oleh nyonya itu.

Pada tahun 1678, setelah 12 tahun memangku jabatannya, karena merasa
dirinya sudah tua, Nyai Gan Djie mengajukan surat pengunduran diri dari
kedudukannya sebagai Waarnemend Kapitein Tionghoa. Pengunduran itu
diterima baik oleh pemerintahan. Kepadanya diserahkan surat penghargaan
dari pemerintah.

Sebagai gantinya pemerintah mengangkat Tjoa Hoan Giok sebagai Kapitein
der Chineezen keempat ( masa jabatan 1678-1685 ). Secara resmi ia mulai
memangku jabatannya pada 14 Juni 1678.

No comments: